Senin, 17 Agustus 2015

Belajar Bikin Sushi Bareng Chef Osawa & Japan Embassy

​​Tanggal 11 Agustus yang lalu, saya diundang oleh pihak Excite Indonesia mewakili Japan Embassy - Bagian Penerangan dan Kebudayaan untuk hadir dalam acara Pengenalan Kuliner Jepang di kampus Binus Anggrek, Kemanggisan.

Sebenarnya agak bingung dan penasaran, kira-kira acara pengenalannya akan seperti apa dan bagaimana ya? Secara kalau ada hubungannya dengan "kuliner jepang" pikir saya, berarti akan ada icip-icipnya yaaa at least icip sushi atau udon lah. Hahahaha

Di email yang saya terima sebelumnya, saya diminta untuk datang dilokasi acara pada pukul 14.00WIB. Setelah izin dari kantor, saya jalan sekitar pukul 13.00WIB dengan harapan gak ada nyasar-nyasar dijalan. Secara kampus binus anggrek kan pasti banyak orang tau jadi saya jalan tanpa rasa khawatir. (khawatir akan berakhir kekenyangan setelah event selesai, mungkin iya) 


Setelah sampai dilokasi ternyata sudah lumayan rame (yaiyalah namanya juga kampus, kapan sepinya..?)
Tapi ternyata acaranya sendiri agak molor dari yang diinformasikan diundangan. Baru sekitar pukul 15.30-an acaranya dimulai. Setelah kata sambutan dari pihak Japan Embassy dan perwakilan dari kampus Binus anggrek, saya mengikuti demo membuat Sashimi, Dashi (kaldu jepang), pembuatan Maki Sushi/Sushi Roll, penjelasan mengenai jenis pisau, teknik memotong/fillet ikan, teknik mengasah pisau dan serba-serbi filosofi bahan memasak dalam budaya Jepang yang dipandu oleh Chef Osawa. Kesemuanya SERU!

Selama demo masak dan cerita serba-serbi makanan jepang berlangsung, saya note beberapa hal penting dari penjelasan Chef Osawa, seperti;
- Sejarah kuliner tradisional Jepang dimulai kurang lebih 15000 tahun yang lalu. Kalau gak salah itu kali pertama ditemukannya tembikar. Nah..diyakini juga budaya menanak nasi dimulai pada saat itu, dan teknis memasak dengan merebus dan mengukus mulai digunakan.

- Pada makanan Jepang, untuk mendapatkan taste yang "Umami" atau gurih umumnya menggunakan sake manis. Dan gak hanya rasa, penggunaan sake sendiri dipakai untuk  menambahkan wangi pada makanan.

- Baru tau juga, kalau dulu goreng-gorengan Tempura dulu bentuknya gak panjang/sebesar yang ada sekarang. Karena dulu minyak mahal! Hahaha..sekarang juga sih. Nah, yang makan makanan dengan teknik digoreng dulu hanya kaum bangsawan. Sampai pada akhirnya kita semua bisa nyobain tempura itu baru sekitar 300tahun yang lalu. Wew

- Setelah mengenal sistem keyakinan, atau pada saat Buddha mulai dianut barulah masuk budaya minum teh dan vegetarian. Vegan sendiri seperti yang kita ketahui adalah kaum yang tidak memakan/menggunakan makhluk hidup sebagai bahannya. Atau tidak makan makanan yang bernyawa. Pada masa itu juga jamuan atau Upacara Minum Teh mulai berkembang. Dan mulai dikenal pulalah makanan untuk jamuan khusus, atau Kaisekinori yang masih terus dilestarikan sampai saat ini.

- Di jepang, ada berbagai aturan makan. Diantaranya kalau makan Sup itu diminum langsung dari bibir mangkok. Kalau makan mie/udon menghasilkan bunyi (slurppppp) itu gakpapa lho, dan bukan bunyi aneh atau yang dibuat-buat ya. Dan pada waktu makan, mangkok nasi itu dibawa dengan tangan dan makan dengan sumpit.

- Kuliner klasik jepang atau Washoku, itu terdiri dari Nasi, Sup, Lauk (utama) & lauk (pendamping).

- Lalu makanan selalu disajikan pada wadah yang cantik dan menarik. Gunanya untuk menampilkan makanan dengan menarik, supaya apa? Supaya bisa diperbincangkan dengan teman atau orang yang kita temani makan. (Budaya makan sambil ngobrol itu biasa disana, mungkin supaya kita gak kebanyakan makan kali ya??) 




Amazing Sashimi by Chef Osawa

Chef Shuichi Osawa with his authentic Sashimi

Ichiban Dashi and Niban Dashi


Oya, yang paling seru dari acara hari itu adalah, saya berkesempatan untuk private Belajar nge-roll Maki Sushi bareng Chef Osawa langsung. Hehehe what an opportunity 










Thank You Excite Indonesia & Japan Embassy !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar